Pak Ino, Beruang Sayang Pak Ino <3

INO-OBITUARY2-

Sudah 5 hari yang Pak Ino berpulang ke rumah di surga, tapi entah kenapa aku merasa amat sangat kehilangan. Ya jelas sih, karena setiap kehilangan itu menyedihkan. Sah-sah saja kalau kita merasa sedih, linglung, sering melamun membayangkan saat-saat dimana kita menghabiskan waktu dengan individu yang kini telah tiada tersebut, marah, merasa tidak terima, dan mengumpat dalam hati kenapa ini terjadi begitu tiba-tiba. Tak ada diantara kami yang mungkin mengira akan kehilangan Pak Ino semendadak ini, begitupun aku. Aku yang dengan naif membayangkan kalau Pak Ino akan terus ada ketika aku mencarinya ke ruang dosen, bertemu dengannya  secara tidak sengaja di lorong psikologi unair yang notabene itu-itu aja, dan tetap bisa berteriak memanggil beliau dari kejauhan lalu memeluknya sambil berkata“Engkooooong!!! Aku kangen!!!” seketika terdiam saat menerima berita dari teman seangkatan yang kebetulan mendengar berita tersebut dari wadek 1 fakultasku.

Aku yang tidak percaya pada berita yang menyangkut engkong super yang tahan banting tersebut langsung lari ke ruang operator PMPM dimana kalau ada berita apapun pasti akan sampai ke Pak Biv selaku pembuat pengumuman bagi media elektronik fakultas. Sesampainya disana aku bertanya

“Pak Biv, beneran ta??”

“Apanya?”

“….” aku berhenti bertanya. Bukannya aku bisu mendadak ataupun amnesia, tapi aku melihat layar laptopnya yang tengahmengedit foto Pak Ino dan mengetikkan tulisan “Telah berpulang…” aku tidak perlu bertanya lebih jauh, semua pertanyaanku sudah terjawab. Berita itu sungguhan. Aku terdiam menatap layar laptop yang terus mengetikkan kalimat yang tidak ingin kulihat, tapi entah mengapa mataku terus memandangnya sampai kata terakhir selesai dituliskan. Dalam lubuk hatiku mungkin aku berharap ada kalimat “aku bohong yeeeeek!!!! Dasar bocah gampang dibujuk’i!!!” walaupun sebenarnya aku tahu kalau kalimat itu tak mungkin muncul

Kalau kalian bertanya seberapa berharganya kehadiran Pak Ino padaku, aku akan menjawab “DIA BERHARGA, BANGET!!”. Secara tidak langsung, aku seringkali menganggap Pak Ino seperti kakekku sendiri. Karena dosen yang  sebenarnya berumur tak terlampau jauh dari bapakku tapi berperawakan seperti engkong-engkong di film kartun UP! Itu selalu menyenangkan diajak bercanda tanpa sungkan layaknya saudara sendiri

Iya, diajak bercanda. Sebelum menulis cerita ini, aku sempat bingung untuk ikut menulis cerita untuk memorialnya atau tidak. Karena semua kenanganku yang berhubungan  dengannya selalu berkaitan dengan  hal yang menyenangkan. Bukan seperti karya anak lainnya yang berisi percakapan atau kejadian inspiratif yang mengubah jalan hidup mereka. Ceritaku tampak tidak keren dan terkesan mbanyol, walaupun itu memang terjadi saat aku bersama Pak Ino. Tapi karena Grace berkata bahwa itu tidak apa-apa, dan banyak sudut pandang bisa membuat gambaran tentang Pak Ino semakin mendekati manusia sesungguhnya yg hadir diantara kita, bukan dewa inspirator yang tampak tak nyata dan jauh dari jangkauan, akhirnya aku menuliskannya

Sebelumnya, aku selalu mendengar rumor yang menyeramkan tentang dosen bernama Ino Yuwono yang merupakan penguasa dunia PIO. Jujur, itu membuatku takut… takut dicaplok, takut diuncal keluar kelas karena aku sendiri sadar fungsi otakku ini ndak ‘WAW!!’ banget!! Simpelnya,..pokoknya takut

Pada suatu hari, tibalah hariku bertemu dengan Pak Ino!! Jeng jeng jeng jeng!!! Yah, tapi udah kukatakan di awal kalo fungsi otakku agak ndak jangkep kan ya? Bukannya kabur atau sembunyi, aku malah menyapa “monggo paaak~” sambil tersenyum lebar seperti kebiasaanku menyapa para tetangga dekat rumah. Sedetik kemudian aku sadar dan siap matek atau apapunlah yang akan terjadi. Namun diluar dugaan, Pak Ino malah tersenyum ramah menyapaku. Seketika itu juga aku merasa kalau bapak ini menyenangkan!!!! Bapak ini tidak berbahaya bagi kelangsungan jiwaku!!

Semakin sering menyapanya, Pak Ino akhirnya menanyakan namaku dan setelah itu selalu memanggil namaku walaupun ditambahi huruf ‘N’ dibelakangnya jadi KUMAN. Banyak orang yang mengataiku ‘kamu lho kum, koyok ulo marani gepuk’ tapi aku berpikir, ‘Halaaaaah, aku lho durung tau digepuk’ sambil terus menyapa Pak Ino sambil terkadang bercanda dan tertawa

Pak Ino yang ternyata mengenal ibuku di tempat kerja yang sebelumnya seringkali berkata “Ibukmu lho pinter!! Aku sinau statistik teko dhe’e!! Anak’e kok goblog ngene, ibukmu gak protes a?” dan kujawab “Haduuuh pak, Ibukku lho dadi ibukku 20 tahun. Wes paham lah nek anak’e goblog” Pak Inopun mengkeplak kepalaku sambil ketawa walaupun geleng-geleng miris

Pak Ino juga pernah menawariku jajan, tapi sebagai imbalannya  aku harus tau nama jajan itu. Aku yg ndak faseh soal nama jajanpun bingung, tapi pengen. Tapi dipikirpun, nama jajan yang sejenis itu di otakku cuma makaroni skotel. Karena salah tebak,aku kena penalti ndak boleh makan jajan. Tapi beberapa saat  kemudian, Pak Biv dikasih walaupun ndak tau nama jajannya. Langsung aku lari ke ruang pribadi Pak Ino sambil berteriak menuntut keadilan“Pak Ino licik’aaaaaan!!! Pak Biv nggak tau namanya jugak kok dikasiiih??!”. Pak Ino hanya tertawa sambil memanggilku dan memberitahu kalau nama jajan tersebut pastel tutup dan aku diijinkan makan asalkan makannya di ruangnya Pak Ino “Kalau makan disini kan ada minum, tisu, permen tinggal ambil” ujarnya. Ya, saat itu aku juga merasa seperti beruang yang diumpan jajan, memang itu bukan perasaanmu saja

Saat itu aku bertanya pada Pak Ino,

“Setiap kali ada anak telat disuruh bawa jajan nih? Enak dong, aku bisa gendut kalo masuk kelasnya bapak. Soalnya kan aku naek angkot, jadi ndak mungkin telat soalnya berangkat pagi banget” kataku menyombongkan diri

“Ya itu syarat kalau mereka mau masuk kelas. Jajannya  kan sebagai pertanggung jawaban kesalahan mereka. Temen-temennya aja bisa dateng tepat waktu, masak dia nggak bisa? Malulah harusnya dia sama yang lain. Kalo mau masuk ya harus bawa jajan buat temen-temennya sekelas yang ndak telat tadi”

“Jajannya mereka sendiri yang milih?”

“Yo ndak lah! Aku yang milih!! Biasanya takpilihkan jajan yang jarang dikenal anak muda jaman sekarang. Biar mereka belajar tentang budaya mereka! yang terlambat maupun yang tidak terlambat biar sama-sama tau kalo jajan ini bentuknya begini”

“Hooo~” aku hanya bisa mengangguk-angguk. Aku tidak tahu sebelumnya kalau dibalik kelalimannya membawa jajan itu ternyata ada arti sebesar itu, tanggung jawab dan budaya…aku tak pernah berpikir sejauh itu

Tapi aku ingat saat itu Pak Ino menambahkan

“Tapi setelah keluar dari UNAIR pasti mereka lupa dengan kebiasaan bertanggung jawab ini, karena tak ada yang memaksa mereka” ujarnya sambil tertawa

Aku tak akan lupa pak, aku akan mengingatnya. Walaupun hukumannya bukan bawa jajan, aku janji akan jadi beruang yang selalu berusaha untuk bertanggung jawab hehehehehe  Xd

…….

Suatu hari juga pernah Pak Ino memanggilku yang tengah berjalan ke gedung baru psikologi yang letaknya cukup jauh dari gedung lama

“Kuman!! Sinio!! Aku punya lagu lucu!!” sambil melambaikan tangan memanggilku

“Apa apa apa??” sekali lagi, aku bagaikan beruang diumpan makanan, tapi biarlah…aku penasaran

Diputarkanlah lagu dari dalam mobilnya. Lagu anak-anak bertempo riang yang dinyanyikan kakek-kakek dinyanyikannya pula sambil bergoyang. Andai saja kalian ada disana, pasti imej sangar yang beliau bangun akan gupil sedikit-demi-sedikit karena goyangannya. Aku tertawa dan ikut menyanyi sampai hampir lupa kalau aku harus pergi ke gedung baru untuk kuliah. Sampai sekarang, lagu itu masih kusimpan di Hpku tanpa pernah dihapus karena alasan apapun. Sampai sekarang, walaupun lagu itu kini membuatku meneteskan airmata karena teringat goyangan dan senyumnya yang menyenangkan itu tak akan pernah terulang berapa kalipun aku memutarnya keras-keras

Pernah juga suatu ketika aku membuat bando kuping kelinci yang lucu dan kubawa ke kampus karena hendak kupamerkan kepada anak-anak. Di saat berjalan menuju Gedung baru aku bertemu pak Ino dan beliau tertawa melihatku membuat dan memakai kuping kelinci tersebut sambil bergoyang. Kukira nasib kuping kelinci bersama Pak Ino hanya sampai disitu. Namun, ternyata sepulang kuliah, disaat ada seminar IO tentang networking, aku diculik dosen-dosen IO untuk menjaga meja penerima tamu. Saat itu Pak Ino berkata

“Mana kuping kelincimu?”

“Ini pak, kenapa?”

Beliau langsung memasangnya dan macak imut, spontan aku dan anak-anak IO tertawa melihat beliau seperti itu. Tapi itu bukan klimaksnya, setelah itu Pak Ino minta difoto menggunakan hapenya

“Fotoin kum!!”

“Aku juga mau foto pakek hapekuuu”

“Gak oleh! Ntar ae takkirim dari hapeku”

Tapi setelah itu, Pak Ino dan aku bingung bagaimana cara mengirimkan gambar lewat hape canggihnya ke hape gupilku. Beliau berkata

“Hash angele!! Gak usah ae yo!!”

“Lhoooo, licik’aaaan!!! Pakek lagi po’ooooo, aku mau fotoooo~”

“Maleeees, wuakakakakakakakak” sambil masuk ke ruang seminar

Aku dari dulu sampai sekarang benar- benar berharap bisa menculik hape Pak Ino dan meminta foto dimana dia menggunakan bando kuping kelinci dan macak imut tersebut, sungguh

…….

Beliau juga pernah memamerkan ijazahnya yang sudah menguning di PMPM ketika beliau hendak men-scannya. Beliau berkata “Liaten ta!! Aku mbiyen ganteng kaaaan!!” sambil tersenyum sombong. Aku bisa berkata apa? Aku hanya tertawa dan menyeletuk “Sampek sekarang lho ya masih ganteng!! Tapi mbiyen Pak Ino gantengnya kayak anggota The Beatles ya” tanganku menunjuk ke arah pas fotonya yang tertempel di ijazah lama tersebut yang tipe poninya emang poni yang tampaknya terkenal di masa itu

Pak Ino tidak pernah protes kupanggil dengan panggilan “Engkooooong!!!”, beliau juga pelukable alias bisa dipeluk. Setiap kali aku mengincar tangannya untuk disalimi, buntut-buntutnya malah tanganku yang dicium. Aku jadi merasa diperlakukan seperti putri-putri jaman dulu hahahahahahaha XD

Beberapa saat yang lalu aku sempat menggambar wajah beliau atas request Pak Ino sendiri

“Kuman! Gambarno aku!! Bawak’o kertas sama perlengkapanmu!!”

Aku mah seneng-seneng aja disuruh nggambar, asalkan ndak disuruh ngitung-ngitungan statistik lalim yang nilaiku D itu

Semenjak itu, beliau selalu memakankanku kepada dosen yang lain seperti Pak Sam, Pak Ucok, Bu Vero untuk menggambar mereka. Aku sih seneng-seneng aja kemampuanku diakui Pak Ino, apalagi beliau promosinya sambil tersenyum lebar menyenangkan. Aku entah kenapa merasa seperti cucu yang dibanggakan engkongnya sendiri. Diam-diam aku merasa bangga walaupun protes kepada Pak Ino soal kelalimannya menyuruh dosen-dosen buat minta kugambar

Pak Ino dan Pak Sam-lah yang menyarankanku membuat skripsi tentang komik. Tentu saja ide tersebut kusambut gembira karena pertamanya kusangka tema-tema di psikologi itu berat dan tidak terlalu menarik. Sekarang aku berusaha mewujudkan ide menyenangkan tersebut, doakan aku berhasil ya Pak Ino, Pak Sam juga doain ya, jangan lalimi aku terus wkwkwkwkwk~

Padahal aku bercita-cita berfoto dengan Pak Ino disaat yudisium psikologi pada saat kelulusanku nanti walaupun peminatanku bukan Industri Organisasi melainkan Perkembangan Pendidikan karena beliau pernah pamer padaku sambil berkata

“Lihat dosen-dosen yang lain formal semua! Aku dong, akrab sama anak waliku!!”

Sayang itu belum sempat tercapai

Pak Ino, aku sayang bapak. Walaupun keberadaanku tidak seberfaedah anak-anak lain yang pandai berfilsafat tentang kehidupan, aku harap bapak senang pernah bertemu denganku. Diatas sana, jangan tertawa ya kalau bapak melihatku mengetik tulisan ini sambil menangis atau mendengar lagu pemberian bapak sambil terisak. Walaupun aku merasa sedih dan tidak rela melepas bapak, aku benar-benar bahagia pernah bertemu bapak di kehidupanku

Terimakasih Pak Ino… Walaupun kata anak-anak kamu sangar bangeeeeeet, Pak Ino engkong yang amat sangat menyenangkan dan dari Pak Inolah aku belajar kalau menghargai orang itu tak perlu memuji, pengakuan atas keberadaannya dan kemampuannya sudah merupakan penghargaan yang tak ternilai dan dapat memotivasinya untuk terus maju dan mengasah kemampuannya. Terimakasih sudah memuji kemampuan menggambarku, aku berjanji akan terus mengasahnya

Dan terimakasih sudah pernah memuji saya cantik (-^u^-)

Advertisements

9 thoughts on “Pak Ino, Beruang Sayang Pak Ino <3

    • Sama-sama pak, #pukpukpakbukik… Alhamdulillah, kisah-kisah yang ditinggalkan Pak Ino semuanya menyenangkan dan inspiratoris ya :’)

  1. god, critamu kmbli membuatku yg takut tiap ktmu beliau ngrasa goblog bgt, knapa g pernah brani nyoba ngobrol dg beliau, yg jelas enak bgt d ajak dialog ngalor ngidul.. Pdhl cm prlu scuil dkit bgt usaha,bwt ngenal bliau.. Aku malu sm km dn p ino,dbndng km,aq kliat gocik bgt

    • sudahlah rick… tiap orang punya ketakutannya sendiri2. kalo kmu takut sama pak ino, aku lho takut jalan2 keluar kota sendiri 🙂

      penyesalan juga selalu dateng terakhir… aku juga belum sempat bilang kalo aku sayang pak ino :’3

      semua punya penyesalannya sendiri2, tak apa, tak apa #puk2

  2. kumaaa .><. I am crying!! padahal sudah berminggu-minggu lalu..tapi tetep kalo baca tentang Pak Ino, pasti terharu. :')
    Thanks kum sudah berbagi cerita ttg beliau. Mungkin hanya kamu satu2nya mahasiswa yang kutahu yang deket buanget kayak lem sama beliau. ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s