Surat dari Pak Ino Yuwono: Akhir Perjalanan Hidupku adalah Awal Sebuah Perjalanan Baru

Maaf kalau blogku akan membahas tentang engkong Ino Yuwono. Maaf kalau dengan ini blogku yang memegang title “Blog ANTIGALAU” selama ini akan mengakhiri sepak terjangnya sebagai blog yang hanya akan menghibur kalian. Tapi ijinkanlah aku berduka-cita atas kehilanganku, ijinkan aku mengenang dan membahas dosen sekaligus engkongku ini, untuk sementara waktu ini saja. Semasih otakku yang terbatas mampu mengingatnya, saat hatiku yang tumpul ini masih tergores kenangan-kenangan dan duka darinya, dan mataku masih mengalirkan airmata karena mengingat kelalimannya, juga bibirku tersenyum atas ingatan tentang candaannya.

Ijinkanlah aku mengenangnya yang takkan kembali. Saat ini saja, sementara ini saja. Aku tahu Pak Ino akan marah, menertawaiku dan menggoblogiku karena terhanyut dalam ketiadaannya. Tapi sekali lagi, sungguh. Ijinkan aku untuk terjatuh saat ini saja, menangis sejadi-jadinya sekali ini saja, mengumbar kegalauanku disini sedikit saja. Aku berjanji akan kembali tersenyum dan membuat kalian tertawa kembali lain hari, aku akan menghapus kedukaan kalian lain kali, aku akan menepis kebosanan kalian esok hari, dan mengangkat mood kalian setelah ini.

Jikalau tak berkenan ikut galau, lewatkan saja postingan ini yang ku-reblog dari blog Cece (Gracesusilowatiman.wordpress.com), yang merupakan verbatim dari sebuah surat peninggalan engkong yang ditemukan oleh kerabatnya dan dibacakan tadi pagi saat kami mengisi menjadi paduan suara di pelepasannya di psikologi Unair tadi. Yang kami simak dengan baik dan penuh air mata, walaupun sebenarnya aku ingin melepasnya dengan senyuman.

Tapi untuk kalian yang membacanya, semoga isi surat ini membangunkan kalian seperti surat ini menggoreskan senyum sekaligus tangis pada pagiku. Aku tak pernah menyesal bertemu beliau, aku bangga pernah menjadi anak yang cukup disayang beliau, Pak Ino….sekali lagi kuulangi, Beruang Sayang Pak Ino, semoga perjalanan Pak Ino yang baru tak kalah menyenangkan daripada yang sekarang ya. Aku berharap akan bertemu dengan  anda lagi di lain hari, di kehidupan yang lain mungkin, atau di perjalanan yang lain. Selamat tinggal, sampai jumpa lagi.

Selamat membaca

8 Desember 2012.

Hari ini diadakan upacara penghormatan terakhir oleh Universitas Airlangga kepada Pak Ino Yuwono. Upacara ini dilakukan di lobby Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, fakultas yang dicintai Pak Ino. Dalam upacara ini, Pak Made, salah satu alumni Psikologi Unair membacakan surat terakhir dari Pak Ino. Berikut ini merupakan surat yang ditulis oleh Pak Ino:

Setelah beberapa kali maut nyaris menghampiriku, kini akhir perjalanan telah kujelang. Aku telah sampai pada akhir dari sebuah perjalanan. Aku tidak pernah menyesal maupun malu. Akhir perjalanan ini adalah awal sebuah perjalanan baru bagiku. Teman, aku akan mengatakan secara tegas tentang apa yang kuyakini. Keyakinan yang memanduku selama perjalanan hidup, dari awal hingga saat ini, diujung akhir. Aku tak akan bicara panjang lebar. Bukan sebagai wasiat, tetapi mungkin engkau bisa mengambil pelajaran. Aku telah mengalami banyak kejadian. Tidak semua, tetapi apapun yang aku alami adalah pilihanku. Aku jalani setiap pilihan seutuhnya. Aku menghidupkan setiap pilihan sehidup-hidupnya. Mungkin ada keraguan. Mungkin ada penyesalan. Mungkin ada kekeliruan. Tetapi tak cukup besar sebagaimana keyakinanku dalam menjalani pilihanku. Hidup adalah mengenai tujuan sekaligus cara kita menjalaninya. Kesedihan terbesarku adalah ketika menyaksikan banyak orang menjalani hidup tanpa menjalaninya. Orang menjalani kehidupan yang menjadi pilihan orang lain, tidak menjadikan hidup sebagai bagian dari dirinya. Hidup seolah sebagai beban dari orang lain yang dibebankan kepadanya. Jangan heran, bila dalam banyak perjumpaan aku banyak bertanya. Pertanyaan mengenai tujuan-tujuan dari pilihan tindakanmu. Untuk apa kuliah? Untuk apa belajar? Untuk apa bekerja? Untuk apa hidup? Banyak orang terkejut, bahkan terganggu atas pertanyaan sederhanaku ini. Banyak orang yang mengabaikan pertanyaan itu karena hidup tidak menjadi bagian dari dirinya. Mengapa aku tanyakan pertanyaan sederhana itu? Hidup adalah anugerah bagimu, sebagaimana engkau adalah anugerah bagi sesama dan kehidupan. Bagaimana bisa mensyukuri anugerah bila kita tidak tahu kemana kita akan menuju dalam hidup? Namun pertanyaan sederhana mengenai tujuan hidup sering kali tidak menemukan jawaban. Banyak orang tetap memilih untuk tidak menjawab pertanyaan itu, apalagi untuk menjalani jawabannya. Orang memang lebih nyaman untuk menjalani apa yang sudah dijalani bertahun-tahun meski dia tidak tahu kemana arah tujuan. Ada banyak orang yang tidak menyukai cara mengajarku. Mereka mengatakan caraku mengajar itu biadab. Sayangnya, cara-cara yang disebut biadab itu yang lebih sering membuat orang berani meninggalkan kenyamanannya. Cara-cara biadab itu yang justru menyebabkan orang tergerak untuk menjadi orang yang lebih beradab. Bukannya aku menyukai cara-cara biadab itu. Aku tahu, banyak yang membenci cara-caraku itu. Aku tahu, banyak orang mengindari aku. Aku tahu, banyak orang bicara seperlunya denganku. Aku juga tau, ada orang-orang yang menertawaiku. Aku hadapi konsekuensinya selama sebuah cara bisa membuat orang lebih terdidik. Aku sangat mencintai pendidikan. Aku sangat menyukai mendidik, berapapun biaya yang dibutuhkan untuk melakukan itu. Meski aku seolah menjadi monster ganas yang ditakuti orang, meski aku seolah berada di puncak gunung, sendiri dan sepi, cintaku pada pendidikan melampaui semuanya itu. Mendidik adalah panggilan hidupku. Selama perjalanan hidup, aku telah melakukan banyak tindakan. Aku nikmati beragam suasana dalam perjalananku itu. Ada kalanya, tawa bahagia menjadi warna. Tak jarang, kesepian datang menyergapku, seperti disergap sekawanan serigala yang lapar. Tetapi aku nikmati kesepian itu, sebagaimana aku menikmati tawa bahagia. Terimakasih, telah menjadi temanku, dikala tawa menjadi warna, terimakasih pula ketika sepi datang menggigit.

Teman, selama perjalanan ini, aku telah bertemu engkau. Mungkin pada suatu belokan, pada jalan lurus terbentang, pada turunan curam atau jalan yang mendaki tajam. Setiap momen perjumpaan mempunyai warnanya sendiri. Engkau mungkin mengenalku pada suatu momen, mungkin tak mengenalku di momen yang lain. Ya, inilah aku. Inilah kehidupan yang beragam ini. Aku mungkin seperti yang kau bayangkan, sekaligus bukan seperti yang kau bayangkan. Bila dalam perjumpaan tersebut ada pelajaran, ambil dan manfaatkan. Bila dalam perjumpaan tersebut ada perbedaan, jadikanlah sebagai cermin. Janganlah sesekali berusaha meniruku. Engkau adalah keagungan kehidupan sejati. Engkau adalah anugerah bagi kehidupan. Jadilah dirimu. Jalani jalanmu. Apa artinya manusia bila tidak menjadi dirinya sendiri? Kebanggaanku dalam hidup bukanlah karena jasa-jasaku pada kehidupan. Kebanggaanku terbesar adalah terhadap pilihanku untuk menempuh jalanku sendiri. meski terjal, meski sendiri, meski sepi. Apapun akibatnya, aku bangga mengatakan bahwa inilah jalanku. 

Sekarang, aku sudah di akhir perjalananku. Aku tidak lagi menentukan pilihan. Engkaulah yang mempunyai pilihan. Memanfaatkan kesalahanku atau membiarkan kesalahanku menjadi ganjalan dalam hatimu. Mengambil pelajaran dari perjalananku atau melupakan pelajaran seiring waktu berjalan. Aku tidak pergi meninggalkanmu. Aku melanjutkan perjalananku. Akhir perjalanan hidupku adalah awal sebuah perjalanan baru. Sapalah aku bila kita berjumpa dalam perjalanan yang sama di lain waktu. Aku akan dengan senang hati meluangkan waktuku untuk berbicara lagi denganmu.

Dari hati yang paling dalam. Temanmu,

Christophorus Daniel Ino Yuwono

Advertisements

6 thoughts on “Surat dari Pak Ino Yuwono: Akhir Perjalanan Hidupku adalah Awal Sebuah Perjalanan Baru

  1. kuma.. Aku drtd siang mkir,cr2 d google isi suratnya. Yg mau q pajang d kmar bwt ngehantam kpala aku,rutin. G cm bwt mewek tiap nyanyi bwt p ino.. Ntah knapa,aq malah mlm ini nemu d tempat km. Aq ijin reposting d tempat aku ya. Aq yakin bkal jd inspirasi bg smua

    • ya jangan dihantamin langsung ya… hantam isi dan cara pikir kita selama ini aja~ supaya efeknya ndak cuma sakit thok…

      dan jangan lupa,… pak ino mau kita jadi diri sendiri, tapi bukan sekedar jadi diri sendiri. Melainkan jadi diri sendiri yg berusaha sekuat tenaga living our life to the fullest, not just merely survive

      silahkan di repost, kata grace boleh kok 🙂 semoga bermanfaat ya

      • dan entah knapa aku nangis lagi, entah kanap kalimat menjadi diri sendirinya bgitu mengena.. terutama buat aku, yg ingin menjalani idup disini, buat ngedapetin mimpi2, tp masih menjadi orang yang memakai topeng yg pgn d liat orang untuk q pakai, bukan jadi diriku sndiri..

        • Ingatlah rick, Pak Ino umurnya lebih dari setengah abad…
          Kita??! Seperempat abad aja belum!! Wajar kalok masih bingung, wajar kalo kadang2 kesasar

          , tapi jangan terus2an diulangi… akhir hidup siapa sih yang tau? asal kesalahan bisa dijadikan pelajaran, asal kamu tidak pernah membenci diri sendiri, asal kamu yakin dengan apa yang kamu yakini…

          jangan menumpuk penyesalan di akhir nantinya…
          yg sering tak denger se sesali apa yang kamu lakukan lebih baik daripada menyesali apa yang tidak sempat kamu lakukan

          Regret, I have a few
          but then again, too few to mention~
          *I like this part*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s